Tersangka Pencuri Listrik Ajukan Praperadilan


Seorang penghuni rumah susun ITC Roxy Mas dituduh mencuri listrik saat mengisi baterai telepon genggamnya. Dalam proses penangkapan dan penahanan, tidak ada surat pemberitahuan penangkapan dan perpanjangan penahanan yang diberikan kepada keluarganya.

Dituduh mencuri aliran listrik ketika menge-charge hand phone berbuntut pada penangkapan dan penahanan seorang penghuni rumah susun ITC Roxy Mas oleh petugas Polsek Gambir. Nasib ini menimpa Aguswandi Tanjung, penghuni apartemen lantai 7 ITC Roxy Mas, Jakarta Pusat. Lantaran penangkapan dan penahanannya dianggap bermasalah, Aguswandi melayangkan permohonan Praperadilan. Persidangan perdananya digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (21/10).

Sidang dengan hakim tunggal Marsudin Nainggolan hari itu mengagendakan pembacaan permohonan praperadilan. “Sidang hari ini cuma pembacaan permohonan praperadilan, karena pemohon belum siap dengan jawabannya dan ingin mempelajari permohonan itu, sidang ditunda besok Kamis (22/10), agendanya jawaban termohon (Polsek Gambir, red),” kata panitera pengganti M. Santoso usai sidang.

Sementara itu kuasa hukum Aguswandi, Vera T Tobing menceritakan kejadiannya bermula pada tanggal 8 September 2008. Saat itu kliennya tengah men-charge telepon genggamnya di salah satu jaringan listrik yang terpasang pada salah satu dinding koridor rumah susun ITC Roxy Mas. Setelah selesai men-charge sekitar pukul 23.00 WIB, Aguswandi ditangkap aparat Polsek Gambir atas tuduhan mencuri aliran listrik atas laporan Uung Hartanto, Property Manager PT Jakarta Sinar Intertrade selaku pengelola rumah susun itu, pada hari yang sama.

Keesokannya harinya setelah ditetapkan sebagai tersangka, Aguswandi ditahan berdasarkan surat pemberitahuan dan perintah penahanan tertanggal 9 September 2009 selama 20 hari atas tuduhan melanggar Pasal 363 ayat (1) butir 3 KUHP yang ancaman hukumannya selama 7 tahun.

Dari proses penangkapan dan penahanan itu, kata Vera, ada prosedur yang dilanggar. “Mereka (aparat Polsek Gambir, red) tidak memberikan surat pemberitahuan penangkapan kepada keluarganya,” kata Vera.

Selain itu, surat pemberitahuan perpanjangan penahanan tidak disampaikan kepada pihak keluarga Aguswandi sesuai dengan Pasal 18 KUHAP. “Kalau surat penahanannya ada dan mereka berikan, yang tidak ada surat pemberitahuan penangkapan dan surat perpanjangan penahanan yang lamanya 40 hari,” tegasnya.

Vera menuturkan hal yang melatarbelangi kasus ini sebenarnya terkait erat perselisihan yang terjadi antara sejumlah penghuni dengan pengelola dan developer rumah susun ITC Roxy Mas. ”Memang mungkin tanpa prasangka, Pak Aguswandi cukup vokal untuk memperjuangkan hak-hak penghuni rumah susun ITC Roxy Mas yang selama ini diabaikan oleh pihak pengelola, sehingga ia merasa terusik,” kata pengacara dari Dewan Pimpinan Pusat Lumbung Informasi Rakyat (DPP LIRA) mengungkapkan.

Ia mencontohkan pada akhir Agustus lalu, Aguswandi menyurati lembaganya untuk meminta menfasilitasi penyelesaian masalahnya dengan PT PT Jakarta Sinar Intertrade dan PT Duta Pertiwi (Tbk) selaku developer. “Aguswandi dan sejumlah penghuni berkeluh kesah memohon bantuan DPP LIRA untuk berkomunikasi dengan kedua perusahaan itu agar persoalannya tidak berlarut-larut,” tuturnya.

Kemudian pada 8 September, pihaknya (DPP LIRA, red) mengirim surat undangan kepada kedua perusahan itu untuk mengajak berdialog bersama yang dijadwalkan pada 10 September. Namun, karena penangkapan/penahanan itu mengakibatkan tidak terlaksananya dialog itu.

Terkait substansi kasus, Vera menambahkan tuduhan pencurian listrik atas kliennya tak berdasar. Sebab, jaringan listrik yang dipakai di dinding koridor itu merupakan bagian bersama yang setiap penghuni rumah susun berhak mempergunakan fasilitas itu. Ia merujuk pada Pasal 1 angka 4 UU No. 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun.

“Selama ini listriknya dimatikan dengan alasan selama ini dia (Aguswandi, red) dianggap tak membayar service charge. Padahal service charge tetap dibayar, listrik bulanan tetap dibayar, yang tidak dibayar kenaikannya,” akunya.

Saat ini, lanjut Vera, perkara pokoknya masih dalam proses prapenuntutan. “Perkara ini sudah sempat dilimpahkan ke kejaksaan, tetapi kejaksaan mengembalikan berkas perkara ke pihak penyidik kepolisian untuk dilengkapi,” tambahnya.

About bagaskara

seorang Compliance Officer sebuah Bank yang sedang belajar Legal Banking
This entry was posted in Tak Berkategori. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s