Aminuddin: Dulu Bank Penuh Derita, Kini Bank Penuh Duit – besar Dana Bank BPD Kaltim yang di SBI


Apakah ini artinya Anda mau membantah pernyataan bahwa dana Bank Pembangunan Daerah umumnya banyak yang ditempatkan di SBI?

Iya. Sumber dana pihak ketiga kami sekitar Rp13 triliun. Dana pemerintah daerah hanya Rp5,5 triliun. Berapa besar dana Bank BPD Kaltim yang ditempatkan di SBI? Sekitar Rp4,5 triliun. Di SBI itu sebenarnya dalam rangka mengamankan secondary reserve. Kami menaruh uang yang bisa cepat digunakan kalau pemilik dana ingin menggunakan uangnya. Dalam menempatkan uang di SBI, kami juga ikut lelang, mengikuti mekanisme tawar-menawar. Tiap minggu kan ada pelelangan. Bisa dapat, bisa tidak.

Sejak kapan Anda melakukan perimbangan pembiayaan antara pemerintah dan non-pemerintah? Dan, berapa besar saat ini komposisinya? Sejak 2008.

Saat ini komposisinya 50:50 dan ternyata income-nya lebih baik dan cukup besar. Sampai akhir 2009, berapa besar target kredit yang akan dikucurkan oleh Bank BPD Kaltim? Kami perkirakan, kami masih akan bisa tumbuh lagi sampai Rp1,5 triliun atau Rp2,5 triliun kenaikannya. Maka, pertumbuhan kredit kami di 2009 bisa lebih dari 50%. Sebenarnya target pertumbuhan kredit kami hanya 30%. Jadi, total penyaluran kredit tahun ini lebih dari Rp6 triliun. Bicara tentang tingkat suku bunga, Bank Indonesia sudah menurunkan BI rate-nya sampai 7%. Namun, mengapa umumnya perbankan kita masih belum menurunkan suku bunganya secara signifikan? Kalau kami mengikuti tren penurunan BI rate. Justru bank lain yang tidak mengikuti. Kami kemungkinan akan menurunkan suku bunga kami sekitar 0,25 poin. Kami di daerah ingin menjadi leader dalam rangka mengikuti keinginan pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi saat ini. Penurunan BI rate tujuannya untuk mengendalikan inflasi, nilai tukar, dan mendukung sektor riil supaya suku bunga itu tidak menjadi beban berat bagi pengusaha dan pelaku-pelaku ekonomi. Ada dugaan sulitnya pihak perbankan, khususnya bank besar, menurunkan suku bunga karena adanya oligopoli di perbankan kita. Komentar Anda? Saya tidak tahu mengapa mereka tidak menurunkan tingkat suku bunganya. Mereka pasti punya perhitungan sendiri. Menyangkut oligopoli, saya rasa tidak ada. Apa rencana ekspansi Bank BPD Kaltim tahun ini? Kami akan membuka 22 cabang baru di tingkat kecamatan. Kalau bank-bank besar hadir di perkotaan, kami justru hadir di kecamatan. Membuka cabang di kecamatan merupakan tantangan tersendiri. Contohnya, kami punya cabang di dekat perbatasan Malaysia, yakni di Pulau Sebatik. Berapa besar potensi dana yang bisa dihimpun dari kecamatan-kecamatan itu? Sebenarnya, jumlah penduduk di sana memang tidak banyak. Namun, sebelum ada bank, transaksi di sana menggunakan ringgit, padahal itu adalah bagian dari negara kita. Jadi, kami membuka cabang di sana bukan untuk kepentingan bisnis, melainkan peran kami sebagai agen pembangunan. Kalau melihat potensi di Kaltim, lahan perkebunannya sangat luas sekali. Kalau dulu Malaysia sebagai penghasil CPO terbesar di dunia, sekarang Indonesia yang menjadi nomor satu. Lahan perkebunan di Kaltim kurang lebih 4 juta hektare. Ini merupakan peluang dan potensi bagi Bank BPD Kaltim untuk masuk dalam pembiayaan-pembiayaan sektor perkebunan dan pertanian. Gebrakan apa lagi yang akan dilakukan oleh Bank BPD Kaltim dalam waktu dekat? Pengembangan produk dalam hal penghimpunan dana. Kami akan menyeimbangkan dana-dana non-pemerintah daerah. Makanya kami hadir di kecamatan-kecamatan untuk menggali sumber dana. Kami juga akan menerbitkan obligasi. Obligasi menjadi penting untuk mencari sumber dana jangka panjang. Untuk menerbitkan obligasi, kami harus mengubah badan hukum dari perusahaan daerah menjadi perseroan terbatas. Nah, perubahan badan hukum ini harus dibicarakan dulu dengan pemilik atau pemegang saham. Besarannya berapa? Untuk awal cukup Rp500 miliar dulu.

Bagaimana Anda melihat kasus Bank Century dan Bank IFI? Apakah ada bank-bank lain yang akan mengalami nasib sama dengan dua bank tersebut?

Untuk melihat ada atau tidaknya bank yang akan mengalami nasib yang sama dengan kedua bank tersebut, pertama kita lihat kinerjanya. Indikasinya, tingkat suku bunganya yang tinggi. Kemudian, kalau kita menarik mendadak, bank itu kesulitan dan minta waktu. Ini artinya kondisi likuiditas bank tersebut tidak sehat. Lalu modalnya juga mepet, cuma 10% dari CAR-nya. Hal lain yang tak kalah penting, kita harus melihat siapa pemilik bank itu. Kalau pemiliknya seorang spekulan, maka mereka akan menggunakan bank itu untuk spekulasi. Setelah melihat pemiliknya, baru kita lihat pengurusnya dalam mengelola bank tersebut. Jika pengurusnya terus diintervensi oleh pemilik, ya tidak bakalan bank itu bisa berjalan bagus. Kalau saya diintervensi oleh pemilik, saya lebih baik mundur. Sebenarnya yang bisa melihat bank-bank mana saja yang tidak sehat, ya Bank Indonesia. Jadi, selama Anda memimpin Bank BPD Kaltim, tidak ada intervensi dari pemilik? Ketika saya terpilih menjadi dirut, ada komitmen antara saya dan pemilik, bahwa pemilik tidak boleh intervensi dalam hal operasional. Yang penting saya bisa mempertanggungjawabkannya.

Jika saya diintervensi, saya lebih baik mundur.

Anda berkarier lebih dari 30 tahun di Bank BPD Kaltim. Apakah tidak pernah terpikir untuk pindah ke bank lain?
Dulu ketika membuka cabang di Balikpapan, saya punya anak buah 13 orang. Saya memimpin 12 tahun di sana dan kantornya pun seperti kantor lurah. Namun, saya tidak merasa minder. Nah, kalau dulu ukurannya Bank Bumi Daya dan Bank Dagang Negara, kalau melihat infrastruktur yang dimiliki, Bank BPD Kaltim mungkin minder. Apalagi BPD dulu itu singkatan dari “Bank Penuh Derita”. Namun, saya sama sekali tidak minder. Dalam pikiran saya, kalau orang lain bisa, mengapa saya tidak bisa? Apalagi, prinsip saya waktu itu, saya orang daerah, saya sangat mengenal dan tahu benar kondisi daerah saya. Dan, BPD yang dulunya singkatan dari “Bank Penuh Derita, kini menjadi “Bank Penuh Duit”.
Bisa diceritakan masa-masa tersulit yang pernah Anda hadapi selama memimpin Bank BPD Kaltim?
Pada saat mau melakukan perubahan pengelolaan SDM di Bank BPD Kaltim. Istilahnya, melakukan tata ulang organisasi dan pengelolaan SDM. Mengapa saya katakan sulit dan berat, karena mengubah perilaku, kebiasaan, dan budaya. Dulu SDM Bank BPD Kaltim identik dengan pegawai negeri sipil. Penerimaannya tidak berdasarkan pengumuman, tidak diseleksi sebagaimana mestinya, hanya menampung pegawai-pegawai titipan. KKN-nya dulu kuat sekali.
Perubahan itu saya lakukan ketika saya menjadi dirut tahun 1999. Waktu itu saya menyewa konsultan, karena kalau saya sendiri yang melakukan perubahan, nanti akan bersinggungan dengan senior-senior saya. Pada saat itu masih banyak senior-senior saya. Jadi, saya minta pihak lain yang memiliki keahlian di bidang SDM untuk membantu melakukan perubahan.
Mengapa SDM menjadi perhatian saya, karena SDM merupakan salah satu kunci penting untuk keberhasilan. Sebisa mungkin kami memberikan tingkat kesejahteraan yang bagus. Kalau tidak, SDM yang sudah kami bina dan didik bisa kabur ke perusahaan lain.

Anda sudah tiga periode memimpin Bank BPD Kaltim, apakah target-target sudah tercapai?
Setiap periode, saya punya target masing-masing. Periode pertama, saya melakukan perbaikan di SDM dengan menyewa konsultan. Dalam perekrutan, kami menggunakan jasa konsultan lembaga pengembangan perbankan Indonesia. Kemudian periode kedua, target saya meningkatkan sistem teknologi informasi (TI). Begitu teknologi dan jaringan sudah berjalan, baru saya menggenjot permodalan. Jadi, di periode terakhir, saya mengembangkan permodalan dengan tetap memperhatikan SDM.

Berapa besar investasi TI yang dianggarkan setiap tahun?
Kami cukup serius dengan TI. Per tahun sekitar Rp9 miliar kami alokasikan untuk TI.

Tulisan ini dikutip dari majalah Warta Ekonomi edisi 12/XXI/2009, 15-28 Juni 2009. Halaman 12-15. Judul asli tulisan ini adalah “Aminuddin: Dulu Bank Penuh Derita, Kini Bank Penuh Duit”

About bagaskara

seorang Compliance Officer sebuah Bank yang sedang belajar Legal Banking
This entry was posted in Perbankan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s