BCA Digugat Nasabah


Masih ingat dengan gugatan yang diajukan wartawan senior Kemala Atmodjo? Ya, Kemala Atmodjo berhasil membuktikan dalil-dalilnya yang menyatakan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) terbukti melakukan perbuatan melawan hukum.

Perbuatan melawan hukum tersebut berkaitan dengan mesin temuan Luther George Simjian dan dikembangkan John Shepherd-Barron, yakni automated teller machine (ATM). Gara-gara ATM rusak, uang Kemala hilang sejumlah Rp1,25 juta. Akhirnya, BCA diminta majelis membayar ganti kerugian senilai Rp501,25 juta.

Salah satu nasabah BCA, Johanna Susyanti juga mengalami kejadian yang sama. Johanna kehilangan uang lantaran mesin penarik uang otomatis BCA. Namun, raibnya uang Johanna bukan karena mesin ATM yang error, tetapi berkurang sedikit demi sedikit tanpa diketahui dirinya.

Kisahnya, Johanna memiliki tabungan di BCA dengan saldo per 10 Mei 2012 sejumlah Rp10,175 juta. Sebagai nasabah, ia diberikan kartu ATM BCA beserta nomor personal indentification number (PIN).

Selama memegang ATM, Johanna berani memastikan kartu tersebut tidak pernah berpindah tangan atau hilang. Bahkan, suaminya sendiri tidak mengetahui nomor PIN ATM dirinya.

Raibnya uang tabungan baru diketahui Johanna pada 31 Mei 2012. Ketika itu, Johanna hendak melakukan transaksi pembayaran debit BCA sejumlah Rp6juta untuk pembelian telepon genggam. Namun, transaksi tersebut ditolak.

Merasa heran, Johanna langsung melakukan pengecekan saldo. Rupanya, saldo Johanna tersisa Rp55,7 ribu. Mengetahui hal ini, Johanna langsung ke customer service BCA. Berdasarkan keterangan CS BCA, diketahui kalau telah terjadi penarikan tunai sebanyak 10 kali. Sembilan kali sejumlah Rp1 juta dan 1 kali sejumlah Rp900 ribu. Penarikan dilakukan lewat ATM Bank Mega pada 23 Mei 2012.

CS BCA juga menyarankan untuk menghubungi Halo BCA. Saat itu juga Johanna menghubungi Halo BCA. Ternyata, pencetakan transaksi menunjukkan dengan jelas transaksi-transaksi tersebut.

Atas kejadian ini, Johanna selalu proaktif untuk menyelesaikan persoalan. Namun, BCA terlihat lepas tangan. Terlihat dari surat BCA tertanggal 8 Juni 2012. Surat tersebut menyatakan bahwa transaksi dilakukan dengan menggunakan PIN Johanna.

“Surat BCA cenderung menuduh seolah-olah penggugat lah yang melakukan transaksi tersebut,” tulis kuasa hukum Johanna, Sardianto Tambunan dalam berkas gugatannya, Rabu (4/9).

Johanna merasa stres dan terhina karena merasa tertuduh. Padahal, ia sama sekali tidak mengetahui ada transaksi-transaksi tersebut. Kartu ATM-nya juga tidak pernah hilang atau berpindah tangan ke orang lain, termasuk suaminya.

Kemudian, pada 4 Juli 2012, Johanna diminta Halo BCA ke kantor pusat Bank Mega, Jakarta Selatan. Di Bank Mega, Johanna diperlihatkan rekaman gambar yang terekam di CCTV ATM Bank Mega yang terletak di Cilandak Town Square (CITOS). Rekaman tersebut menunjukkan ada seorang lelaki yang tak dikenal Johanna. Lelaki inilah yang melakukan penarikan tunai sebanyak 10 kali.

Melalui rekaman tersebut, terbukti dengan jelas bahwa bukan Johanna yang melakukan penarikan. Meski pelaku akhirnya diketahui, BCA tetap tak mau mengganti uang penggugat. Padahal, insiden ini seharusnya  tidak akan terjadi jika BCA tidak membiarkan penarikan tunai tersebut.

BCA seharusnya melindungi uang yang dipercayakan nasabahnya untuk disimpan di BCA dari orang-orang yang tak bertanggung jawab. Untuk itu, BCA telah melanggar ketentuan Pasal 2 UU No. 7 Tahun 1992 jo UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.

Atas hal ini, penggugat meminta ganti kerugian material sebesar Rp99,9 juta. Angka ini muncul karena penggugat seharusnya bisa memperoleh keuntungan sejumlah Rp85 juta dari usaha wedding organizernya dengan uang sejumlah Rp10 juta tersebut selama 1 tahun. Sedangkan kerugian immaterial, Johanna meminta sejumlah Rp1 miliar.

Perkara bobolnya uang nasabah antara Johanna Susyanti versus PT Bank Central Asia (BCA) Tbk kembali berlanjut di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (11/9). Agenda persidangan telah sampai ke tahap replik.

Dalam repliknya, Johanna membantah dengan tegas dalil-dalil yang ditudingkan BCA dalam jawabannya. Johanna mendapat kesempatan membalas tudingan yang dilemparkan BCA di dalam berkas jawaban.

Untuk diketahui, BCA dalam berkas jawabannya menolak bertanggung jawab atas kehilangan uang nasabah yang ditarik secara tunai melalui automaticteller machine (ATM). Versi bank swasta ini, pihak yang paling bertanggung jawab atas keamanan kartu ATM beserta personal identification number (PIN) adalah nasabah sendiri.

BCA mengklaim hanya bekerja sesuai dengan prosedur. Penarikan yang dilakukan sebanyak 10 kali melalui ATM Bank Mega di Cilandak Town Square tersebut tidak ada yang mencurigakan. Soalnya, mesin mendeteksi kartu ATM dan PIN Johanna. Meskipun akhirnya diketahui seorang laki-laki yang tak dikenal sebagai pelaku transaksi, BCA tetap berkukuh tak mau mengembalikan uang Johanna.

Lagi-lagi alasannya adalah kartu ATM dan PIN yang terbaca adalah milik Johanna. Pemegang kartu ATM beserta PIN dapat bertindak bebas dalam melakukan transaksi. Sehingga, bank tidak dapat mengontrol transaksi-transaksi yang dilakukan pemegang kartu dan PIN ATM tersebut.

Berbeda halnya apabila penarikan tunai tersebut dilakukan melalui teller BCA. Teller BCA memang diwajibkan untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian sebagaimana diatur dalam Pasal 2 UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Oleh karena itu, penggugat tidak berhak meminta ganti kerugian kepada BCA atas raibnya uang simpanannya sebesar Rp9,9 juta. Tuntutan ganti rugi material senilai Rp99,4 juta dan Rp1 miliar untuk immaterial tidak berdasar.

Sebaliknya, Sardianto Tambunan, kuasa hukum Johanna, mengatakan dalil BCA yang mengatakan Johanna-lah sebagai pihak yang bertanggung jawab sangat tidak berdasar. Nasabah tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban apabila telah bertindak secara benar. Apalagi Johanna sama sekali tidak pernah memindahtangankan kartu ATM-nya kepada pihak lain, termasuk PIN ATM.

Sardianto tetap berprinsip BCA adalah pihak yang bertanggung jawab. BCA harus bertanggung jawab untuk melindungi uang yang telah dipercayakan nasabah kepadanya.

Sardianto mengatakan BCA telah lalai dalam melakukan tanggung jawabnya. BCA tidak menjaga keamanan uang yang telah dititipkan para nasabahnya. Harusnya, BCA bersikap lebih hati-hati karena hampir semua fasilitas bank menggunakan sistem elektronik. Sistem ini kapan saja bisa dibobol pihak yang tak bertanggung jawab dan salah satu modus yang digunakan pelaku adalah dengan menggunakan teknik ATM Skimmer Scan. “BCA harus bertanggung jawab secara corporate kepada nasabah,” ucap Sardianto dalam persidangan.

Kuasa hukum BCA, Filisa Konifianti enggan berkomentar banyak. Usai persidangan hanya mengatakan akan mengikuti prosedur hukum dan tetap berpegang pada dalil-dalil jawabannya.

“Kami tetap pada jawaban kita dan untuk replik akan dijawab di duplik minggu depan. Ikuti proses persidangan saja,” ucapnya.

About bagaskara

seorang Compliance Officer sebuah Bank yang sedang belajar Legal Banking
This entry was posted in Tak Berkategori. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s